Saturday, May 9, 2015

Mengawali jejak di Blue Banana (Part 1) : Sebuah pemikiran tentang transportasi di Jakarta



Hari ini adalah perjalanan pertama saya ke Jerman, tepatnya Düsseldorf. Kalau Aachen saya anggep pintu gerbang perjalanan saya ke Jerman, maka Düsseldorf adalah pintu gerbag saya ke non-Schengen countries. Ya, saya mau submit dokumen untuk apply visa ke UK, nanti saya jelasin kenapa lebih memilih kota ini daripada Amsterdam untuk apply visa. Saya baru saja mengetahui bahwa ternyata Düsseldorf adalah salah satu kota yang termasuk dalam jalur Blue Banana. Jalur ini disebut juga European Blackbone karena telah menunjukkan potensi perkembangan paling besar di geo-ekonomi Eropa.

Dimulai dari rush morning, fiuh yang biasanya jam 7 masih berada di balik hangatnya selimut, dalam waktu 30 menit harus sudah di halte untuk mengejar bis yang ke stasiun Maastricht untuk lanjut ke Aachen. Walhasil, tadi pagi adalah waktu tercepat saya siap2, 15 menit mandi, 3 menit pake baju, 2 menit masuk-masukin barang ke tas sambil ngecek takutnya ada yang kelewat, dan 5 menit untuk turun dari lantai 6 dan lari ngejar bis di halte depan flat. Pas banget keluar flat, liat bis di kejauhan. Syukurlah sopirnya liat saya lari dan dia mau menunggu. Biasanya si sudah pasti ditinggal Haha setelah 7 bulan tinggal di sini (Maastricht) baru tahu saya, rupanya daycard (daagkaart) bus itu baru bisa dipake setelah jam 9 lewat, jadi kalau untuk pagi harus beli 2 tiket seharga 11 EUR (normally, daycard ticket ke Aachen itu cuma 8,5 EUR). Enaknya daycard nich, bisa dipakai kemanapun selama 24 jam selama masih wilayah Maastricht dan wilayah menuju Aachen dengan provider bus yang sama (kebetulan provider di Maastricht adalah Veolia).

Alhamdulillaah, sampe di bus stop Maastricht Main Station tepat waktu, akhirnya bisa ngelanjutin tidur di bis menuju Aachen. Hehe nggak dink, karena tiba-tiba saja kepikiran tentang problematika transportasi publik di Jakarta, entah kapan transportasi di Jakarta bisa layak dan termanajemen dengan baik. Intinya si kapan problematika kemacetan teratasi?