Saturday, March 21, 2015

Anak kos negeri kincir angin versi lapar dan kreatifitas

Ini dilema banget!

Bahan makanan sebenernya ada..tapi rasanya bahan masakan itu nggak saling melengkapi satu sama lain. Passion masak pun lagi nggak ada, otomatis kreativitas meramu bahan makanan menjadi masakan pun tertahan. Makanan kemarin sebenarnya ada, tapi nggak dimakan. Keroncongan dan nggak bertenaga? salah sendiri! Tunggu, tapi itu bukan permasalah utamanya.

Hari ini dilema banget! sudah dua hari otak kosong dan nggak produktif sama sekali. Sementara hari senin makin mendekat. Duh, rasanya makin panik! karena draft proposal tesis harus sudah jadi. Ya ampun! kesal terhadap diri sendiri! Mau jadi apa aku ini!

7 bulan sudah menyandang gelar anak kos untuk keempat kalinya. Pertama kali waktu kuliah, kedua  ketika bekerja di kota belajar, dan yang ketiga pas kerja di ibukota. Dan bedanya sekarang, jadi anak kos di negeri seberang, di negara kincir angin yang kalau belanja pake mata uang Euro. Ok, balik lagi soal pas kalau lagi kelaperan..

Di Jakarta,, laper tinggal telp KFC, McD, atau Bakmi GM. Sorry sebut merk, itu urutan delivery favorit saya. Dilihat dari segi selera, pasti memenuhi selera banget, secara nasi, ayam goreng, dan sambel..sudah cukup. Sekarang, di kota kecil di ujung selatan negara kincir angin ini, mau delivery, pilihannya pizza, pizza, dan pizza. Lidah saya, sebenenarnya bersahabatnya dengan nasi. Pilihan delivery yang ada nasinya, cuma dari restoran masakan thailand. Ah! kangen banget deliverynya KFC Gunawarman. I wish have doraemon door!

Soal masak, biasaya otak saya cepet kalau diajak kerja sama soal meramu resep. Liat isi kulkas, potong2, letakkan dalam mangkuk keramik, tambahkan bawang putih bubuk, lada hitam bubuk, garam, sedikit gula, dan sedikit saus tiram kalau lagi pengen, aduk-aduk, masukan ke microwave, pasang di level 600 watt selama 5 menit, mateng aduk-aduk lagi sebentar, masukan selama 1-2 menit, matang, siap santap. Entah, liat isi kulkas rasanya kreatifitas nggak keluar. Udah bolak-balik buka kulkas sampe 5 kali. Aaargh! i wish someone brings me food! :) haha ngarepin tukang bakso atau mie tek-tek lewat? haha itu impossible! di sini, urusan makan boleh dibilang urusan sendiri-sendiri. Nggak ada yang tiba-tiba pencet bel trus ngasih rantang. Nggak seperti model-model tetanggaan kaya di Indonesia.

Jadi, buat kalian yang mau kuliah di luar negeri, trust me! kehidupan anak kos ala di sini, membuat makin strong dan makin kreatif dan fokus! Ini dilema banget! 75% fokus saya hari ini adalah gimana caranya ada makanan tanpa saya harus masak, haha...15% fokus sosialisasi sama dunia luar (alias ngobrol sama temen di dunia maya), dan 5% kepikiran mau nulis proposal (cat. baru kepikiran).

Ok, itu cerita saya hari ini tentang kehidupan anak kos ala negeri kincir angin (tepatnya si ala saya ;p)

Maastricht, 20 Maret 2015
#bertepatandengangerhanamataharipagiini

Monday, March 9, 2015

Summer on the Early Spring

Summer comes on the beginning of spring... :)


my purple bike :*

Jadi cerita hari ini adalah tentang sepedaan ke St. Pietersberg beberapa waktu lampau. Untuk acara sepedaan ini, saya sebenernya diajak oleh Bu Carla, Agung, Imam, dan Yohanes. Dan rupanya Luc, si care taker housingnya nael ikut juga. Jadi pas lah ada guidenya hihihi. St. Pietersberg ini adalah sebuah desa kecil di perbatasan Belanda, Flanders dan Wallonia. Letaknya tidak jauh dari housing saya di seputaran Brusselseport yang berdasarkan google map, kira2 jaraknya cuma 30 menit naik sepeda. Meeting point yang ditentukan adalah kantor polisi di Prins Bisschopsingel (sebelah Sint Hubertuslaan). Dari sanalah jalur sepedaan akan dimulai. Sebenernya kalau cuma ke fortress Sint Pietersberg itu cuma 15 menit. Tapi kami sengaja mengambil rute memutar melewati perbatasan dengan Belgia. Hitung-hitung sekalian olahraga hahaha. Kira2 jalurnya si begini.