Saturday, January 31, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 4): Terlalu pagi tiba di Praha

photo credits by Anton Tarigan

Pukul 4 dinihari waktu setempat, setelah 10 jam perjalanan dari Warsaw menggunakan Polski Bus, adalah waktu ketika kami tiba di ÚAN Florenc, Prague. Kota tujuan kedua dalam Eastern Europe Trip pada winter 2014. Cuaca dingin yang lumayan menusuk tulang tidak terlalu saya rasakan. Sempat heran, kok ruang tunggunya gini amat ya? kecil dan tampak renovasi sana sini belum selesai. Dan weeeeeeh...toiletnya dikonciiiii...huft huft! apa dech, toilet pake dikunci segala..terlihat beberapa wajah bete penumpang gara-gara ini hahah..Tapi, bersama-sama dengan mayoritas penumpang yang memilih untuk tetap berada di di dalam terminal  menunggu pagi, membuat lelah sedikit berkurang. 

"Fiuuuuuh, still some more destinations ahead..couldn't be more excited than this", batin saya. 

Sunday, January 25, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 3): Warsaw, my first romantic city!



Ok, let’s go..
Memulai perjalanan pertama di Eastern Europe Trip adalah Warsaw. Sesuai dengan schedule, tibalah kami di bandara Modlin. Bandara ini bukanlah bandara utama yang melayani peerbangan pesawat2 besar. Modlin Airport hanya melayani pesawat-pesawat kecil seperti Ryan Air yang saya naiki ini. Penerbangan dari Eindhoven memakan waktu 1,5 jam ke Modlin. Kami langsung menuju shuttle bus yang akan mengantar kami ke city centre Warsaw, dimana teman saya Ilham akan menjemput kami. Pembayaran tiket bus sebelumnya kami lakukan via online, jadi ketika akan naik bus kami hanya perlu untuk menunjukkan tiketnya. Perjalanan cukup nyaman dan kebetulan tidak terlalu penuh. Kami sempat bertanya kepada sepasang ayah dan anak apakah bus yang kami tumpangi sudah betul destinasinya. Rupanya sang ayah tidak berbahasa inggris, sehingga jawabannya ditranslate oleh si anak. Inilah kesan pertama tentang Eastern Europe. Bahasa inggris belum menjadi Bahasa sehari-hari di sebagian besar wilayah Eropa Timur. Sangat berbeda dengan Belanda dimana boleh dibilang semua warganya dapat berbahasa inggris. Teman saya, Ilham, bercerita bahwa ketika pertama kali tiba di Warsaw, agak sedikit mengalami kesulitan berkomunikasi karena dia tidak bisa berbahasa Polish dan sebaliknya mereka juga tidak semua bias berbahasa inggris. What an interesting experience!

Saturday, January 17, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 2): Persiapan

Ini adalah Eastern Europe Trip yang super nekat pada saat Chrismast Break. Kenapa saya bilang nekat? Sungguh, melakukan perjalanan ke beberapa negara dengan dibayang-bayangi dua nilai ujian yang belum keluar dan dua resit di awal januari itu sebuah pemikiran yang sangat beresiko. Tapi bismillaah..modal nekat plus cita-cita belajar selama trip jadi sebuah pembenaran untuk jalan-jalan..ngebul booo' habis ujian 2 mata kuliah yang super berat..hahaha.. entah kenapa eropa timur begitu menarik perhatian saya. Mungkin karena sejarahnya di masa lalu ya, nazi, yahudi, rusia, dsb. Pokoknya historical banget. Udah saya bayangin orang yang tinggi-tinggi, bangunan tinggi, hujan, payung, coat panjang, dan topi. Kayanya saya kebanyakan nonton film emang -_-".

Diawali dengan menentukan negara-negara yang akan

Friday, January 16, 2015

Nggak ada gengsi, flea pun jadi..

Sebagai kota pelajar (meminjam istilah Yogyakarta, kota pelajarnya Indonesia), tentu saja keramaian kota ini didominasi oleh para mahasiswa yang bukan lagi datang dari penjuru kota di Belanda tapi juga dari dunia. Sistem akomodasi atau tempat tinggal, di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kos-kosan ala Indonesia. Mulai dari type room atau di sini istilahnya adalah kammer (kamar), studio (kamar plus fasilitas kamar mandi dan toilet), dan apartment (lengkap dengan dapur, ruang tamu, dan terkadang ada fasilitas gudang atau storage room). Nah, kalau yang semi-semi biasanya fasilitas tambahannya sifatnya nanggung...cuma bukan berarti ada semi room juga haha..Untuk kontrak, jelas tertuang di selembar kertas putih, termasuk deposit (plus agency fee bagi yang menggunakan agent, rata-rata biayanya sama dengan 1 bulan kontrak). Mau kamu hanya sewa satu dua atau tiga bulan, semua serba jelas. Yup! orang belanda emang terkenal administratif banget. Sama dengan di Indonesia, housing (istilah kos-kosan) di sini tersedia dalam beberapa pilihan fasilitas, full furnished (perabotan lengkap), semi furnished (biasanya basic banget tempat tidur), atau unfurnished (kosongan)..tinggal sesuaikan aja dengan budget yang kamu miliki..paling murah tentu saja unfurnished...eh, tapi mahal donk jatuhnya kalau harus beli perabotan-perabotan?! secara di sini pake euroooo....lagian ribet dech ah..

Yuhuuu....persis! tapi ok, pause dulu pikiran itu..karena apa yang gw tulis berikut, bakal bikin kamu

Thursday, January 15, 2015

A short Escape in Winter 2014 (Part 1): Bratislava, Sebuah Rasa tentang Eropa Timur

Yup! Bratislava...adalah ibukota dari negara ketiga yang saya kunjungi dari rangkaian liburan Christmas Break 2014 lalu. Ibukota negara Slowakia (demograpic data: klik disini) ini, atau yang dalam tulisan aslinya Slovak, terletak di tepian sungai Donau dan berbatasan langsung dengan Austria (1 jam perjalanan bus ke Wina) dan Hungaria (2 jam perjalanan bus ke Budapest). Sebuah rute yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan melintasi berbagai negara bukan? 

Kenapa saya mengawali cerita perjalanan kali ini dimulai dari Bratislava? karena bagi saya kota ini memiliki kesan yang menarik perhatian saya tersendiri, meskipun saya berada disana hanya satu hari (menginap satu malam). 

Cerita tentang kota ini dimulai dari insiden "nyungsep" di tangga terminal bus utama, Autobusová Stanica (AS) Mlynské Nivy. Mungkin karena kelelahan, saya tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh saya ketika menuruni tangga dan akhirnya meluncur dengan sukses seperti penguin (sayang nggak ada fotonya hihihi). Malu? nggak juga..hihi alhamdulillaah rasa sakit di sekujur badan lebih terasa daripada rasa malu hiiikz..masa pertama datang langsung nyungsep..hahaha

Friday, January 2, 2015

Implementasi yang berbeda, Idealkah? : Sebuah pertanyaan terkait dengan tugas belajar pegawai negeri sipil

Terinspirasi dari membaca sebuah perbincangan mailing list dan diskusi kecil di group, saya jadi berpikir kembali, Training and Development di kalangan pegawai negeri sipil (lebih tepatnya yang akan saya bahas adalah tugas belajar) sebenarnya memotivasi atau mendemotivasi? apa impact ke depannya terhadap organisasi? 

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal tulisan ini, diskusi tersebut mengulas seputar potongan gaji bagi seorang pegawai negeri sipil. Saya sendiri kaget sebenarnya (malu sebenernya, sudah lama kerja di bidang ini malah baru tahu detailnya sekarang), karena implementasi peraturan antar satu instansi dengan instansi lainnya ternyata berbeda. Sebagai contoh, di Kementerian Keuangan, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.01/2009 tentang Tugas Belajar di Lingkungan Departemen Keuangan Pasal 9 menyebutkan bahwa pegawai yang melaksanakan tugas belajar diberikan gaji secara penuh. Sementara di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berdasarkan Permendiknas Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 11 ayat 3, disebutkan bahwa pegawai tugas

Thursday, January 1, 2015

Keciwis dan sebuah cerita

Hari ini saya memasak cabbage sprout..tapi ini bukan tentang sebuah resep..

Sayuran ini sangat mengingatkan dan mungkin akan selalu mengingatkan saya pada sebuah tayangan televisi swasta nasional di Indonesia sekitar lebih dari 2 tahun yang lalu, tentang dua anak kecil bersaudara di sebuah desa di jawa barat yang harus berjuang mencari uang, salah satunya dengan mencari keciwis di ladang kol bekas dipanen. kenapa cerita ini membekas sekali bagi saya? Ya, amat sangat membekas..karena dari situlah saya pertama kali mengenal jenis sayuran ini...keciwis atau cabbage sprout. 

Masih teringat jelas, betapa air mata ini menitik ketika melihat tayangan tersebut. Sungguh sesak, ketika hasil pengumpulan keciwis tersebut hanya dihargai kurang dari 3 ribu rupiah..sementara, saya membeli sayuran di sini dengan harga kurang lebih 1 euro atau setara 15 ribu rupiah...ya, sebenarnya tidak bisa dibandingkan memang. Saya hanya membandingkan dengan diri saya sendiri. Dengan uang 1 euro saya bisa mendapatkan sayuran ini dengan mudah, sementara mereka harus berjalan dan berpindah-pindah ladang untuk mencari dan mengumpulkan keciwis. Tidak jarang, ada saja pemilik ladang yang melarang mereka untuk mengambil sisa2 panen..tapi tidak sedikit pula yang berbaik hati mengijinkan bahkan memberi sekedarnya...hati ini seperti menangis kembali. Anak-anak dengan usia kurang dari 10 tahun harus berpindah-pindah ladang demi sebakul beras, dan masih ada banyak anak-anak lain yang berada dalam posisi mereka...aah..perasaan saya sangat berkecamuk saat ini.

Semoga mereka sekarang jauuuuh lebih baik dalam kehidupannya, sehat, bahagia, mendapat pendidikan dan perhatian yang layak dari berbagai kalangan...dan semoga bukan cuma untuk kepentingan komersil rating program saja..jujur, ini pertama kali pula saya memasak sayuran ini..dan dada saya terasa sesak, ingat dua bersaudara yang hebat itu! Semoga Allah menghebatkan mereka!