Wednesday, August 5, 2015

Be open!

Seorang teman pernah "terpana" dan bertanya "how amazing you are, how could you have so many friends and how you manage your time with different friends?" Dan sebagian teman yang lain envy dan ngeluh nggak ada teman sedekat itu..
Well, sebenarnya tidak serumit itu.
Bagi saya, single, anak manja, kuliah di negeri dengan jarak tempuh penerbangan direct 15 jam non stop dari rumah tercinta nun di sebuah kota kecil di Indonesia, justru sebuah tantangan bagi saya kalau saya bisa menciptakan "keluarga" di sini. Yah, awalnya pemikiran saya terbawa asumsi bahwa individualism lekat sekali dengan masyarakat Barat. Selintas ya. Tapi saya nggak mau kalau saya terkungkung oleh stigma ini. Saya bertekad, i will make something different :)

Thursday, July 23, 2015

Who ever dreamed of?


*warning: too much selfie pictures! :)


Hari ini, saya tergelitik membaca sebuah postingan seorang teman baik, kira-kira begini: "bisa menuntut ilmu secara gratis kok bangga, bisa membagi ilmu yang bermanfaat secara gratis baru boleh bangga"

Hmh..baiklah, postingan bagaikan magnet bagi saya. Entah apa yang sedang dirasakan, dipikirkan, atau dialami oleh temen baik saya itu. Pernyataan yang multi tafsir menurut saya. Mungkin ada someone yang somehow membuat temen saya itu sedemikian sehingganya meposting apa yang ada di pikirannya (-_-). Namanya juga fesbuk, tulisannya "apa yang anda pikirkan?" hehe


"Bisa menuntut ilmu gratis"



Perjalanan saya diawali dengan ketekadan untuk kuliah lanjutan tidak membebani orang tua dalam soal finansial..sekalipun orang tua menyanggupi untuk membiayai kuliah saya lagi...jadi pilihan tekad saya saat itu cuma 2, biaya

Sunday, July 12, 2015

Mengawali jejak di Blue Banana (Part 2) : Visa UK for General Visit (Visa 6 bulan)

Kali ini, saya mau sedikit share pengalaman mengapply visa UK. Yup, visit saya ke Dusseldorf beberapa bulan lalu adalah untuk mengapply visa ke UK. Hehehehe hasrat explore negara2 tetangga nggak bisa dibendung euy :D
Kalau ada yang bertanya, kenapa nggak di Amsterdam aja si applynya? kan study dan tinggal di Belanda. :) ini dia alasannya:

  1. Secara kalkulasi biaya pendaftaran visa, Dusseldorf lebih murah dibandingkan di Amsterdam (jangan tanya kenapa, dari sononya ;) ) untuk Dusseldorf, kemarin sekitar EUR 121, sedangkan di Amsterdam bisa lebih (lupa pastinya)
  2. Memang si transport ke Amsterdam bisa diakalin lebih murah pake group ticket kereta, karena emang ticket kereta di Jerman lebih mahal, tapiiiii...saya pengin ngerasain bedanya kereta di Belanda dan di Jerman (naonseh ini alasannya hahah) Fyi, saya memakai one day train ticket (Schonentag, sekitar EUR 29, lumayan si, tapi pengalaman lebih bernilai hiihihi). Untuk tiket di jerman, jauh lebih murah kalau booking in advance alias jauh-jauh hari melalui website BAHN, semacam KAInya Jerman. Di situ kita bisa memilih berbagai type tiket sesuai kebutuhan kita.
  3. Dusseldorf memiliki bandara internasional yang melayani penerbangan dari dan ke berbagai negara di Eropa, sehingga menjadikan Dusseldorf sebagai salah satu kota terbesar di Jerman. Walaupun saya beberapa kali ke Aachen, tapi rasanya belum sah ke Jerman kalau belum ke kota-kota lainnya di Jerman. Jadi ada alesan kuat saya untuk menyempatkan explore negara tetangga. And that was awesome! nggak salah saya pilih Dusseldorf! jangan kaget ya ketika di sini, jarang ada orang yang bisa berbahasa inggris. Jadi saya cukup mengandalkan google translate dan bahasa tubuh :)
hehhe...ok, sekarang proses applikasinya akan saya jelaskan..

Pertama,

Puasa 19 Jam

Ini adalah pengalaman puasa saya pertama di Belanda. Nggak sangka, di tahun 2015 ini, puasanya bertepatan dengan dimulainya musim panas. Sah sudah, puasa kali ini akan jauh lebih lama dari waktu puasa di Indonesia yang hanya sekitar 14 jam. Ya, waktu puasa di Belanda kali ini adalah 19 jam. Hihihi..sebelumnya, nggak pernah dibayangin si akan seperti apa, yang tergambar di benak saya ya berarti menahan laparnya lebih lama 5 jam. Itu saja. Eh, tapi saya super excited menyambut puasanya loch..penasaran banget, rasanya puasa 19 jam.

Bismillaah, let's begin the story..

Saturday, May 9, 2015

Mengawali jejak di Blue Banana (Part 1) : Sebuah pemikiran tentang transportasi di Jakarta



Hari ini adalah perjalanan pertama saya ke Jerman, tepatnya Düsseldorf. Kalau Aachen saya anggep pintu gerbang perjalanan saya ke Jerman, maka Düsseldorf adalah pintu gerbag saya ke non-Schengen countries. Ya, saya mau submit dokumen untuk apply visa ke UK, nanti saya jelasin kenapa lebih memilih kota ini daripada Amsterdam untuk apply visa. Saya baru saja mengetahui bahwa ternyata Düsseldorf adalah salah satu kota yang termasuk dalam jalur Blue Banana. Jalur ini disebut juga European Blackbone karena telah menunjukkan potensi perkembangan paling besar di geo-ekonomi Eropa.

Dimulai dari rush morning, fiuh yang biasanya jam 7 masih berada di balik hangatnya selimut, dalam waktu 30 menit harus sudah di halte untuk mengejar bis yang ke stasiun Maastricht untuk lanjut ke Aachen. Walhasil, tadi pagi adalah waktu tercepat saya siap2, 15 menit mandi, 3 menit pake baju, 2 menit masuk-masukin barang ke tas sambil ngecek takutnya ada yang kelewat, dan 5 menit untuk turun dari lantai 6 dan lari ngejar bis di halte depan flat. Pas banget keluar flat, liat bis di kejauhan. Syukurlah sopirnya liat saya lari dan dia mau menunggu. Biasanya si sudah pasti ditinggal Haha setelah 7 bulan tinggal di sini (Maastricht) baru tahu saya, rupanya daycard (daagkaart) bus itu baru bisa dipake setelah jam 9 lewat, jadi kalau untuk pagi harus beli 2 tiket seharga 11 EUR (normally, daycard ticket ke Aachen itu cuma 8,5 EUR). Enaknya daycard nich, bisa dipakai kemanapun selama 24 jam selama masih wilayah Maastricht dan wilayah menuju Aachen dengan provider bus yang sama (kebetulan provider di Maastricht adalah Veolia).

Alhamdulillaah, sampe di bus stop Maastricht Main Station tepat waktu, akhirnya bisa ngelanjutin tidur di bis menuju Aachen. Hehe nggak dink, karena tiba-tiba saja kepikiran tentang problematika transportasi publik di Jakarta, entah kapan transportasi di Jakarta bisa layak dan termanajemen dengan baik. Intinya si kapan problematika kemacetan teratasi?

Saturday, March 21, 2015

Anak kos negeri kincir angin versi lapar dan kreatifitas

Ini dilema banget!

Bahan makanan sebenernya ada..tapi rasanya bahan masakan itu nggak saling melengkapi satu sama lain. Passion masak pun lagi nggak ada, otomatis kreativitas meramu bahan makanan menjadi masakan pun tertahan. Makanan kemarin sebenarnya ada, tapi nggak dimakan. Keroncongan dan nggak bertenaga? salah sendiri! Tunggu, tapi itu bukan permasalah utamanya.

Hari ini dilema banget! sudah dua hari otak kosong dan nggak produktif sama sekali. Sementara hari senin makin mendekat. Duh, rasanya makin panik! karena draft proposal tesis harus sudah jadi. Ya ampun! kesal terhadap diri sendiri! Mau jadi apa aku ini!

7 bulan sudah menyandang gelar anak kos untuk keempat kalinya. Pertama kali waktu kuliah, kedua  ketika bekerja di kota belajar, dan yang ketiga pas kerja di ibukota. Dan bedanya sekarang, jadi anak kos di negeri seberang, di negara kincir angin yang kalau belanja pake mata uang Euro. Ok, balik lagi soal pas kalau lagi kelaperan..

Di Jakarta,, laper tinggal telp KFC, McD, atau Bakmi GM. Sorry sebut merk, itu urutan delivery favorit saya. Dilihat dari segi selera, pasti memenuhi selera banget, secara nasi, ayam goreng, dan sambel..sudah cukup. Sekarang, di kota kecil di ujung selatan negara kincir angin ini, mau delivery, pilihannya pizza, pizza, dan pizza. Lidah saya, sebenenarnya bersahabatnya dengan nasi. Pilihan delivery yang ada nasinya, cuma dari restoran masakan thailand. Ah! kangen banget deliverynya KFC Gunawarman. I wish have doraemon door!

Soal masak, biasaya otak saya cepet kalau diajak kerja sama soal meramu resep. Liat isi kulkas, potong2, letakkan dalam mangkuk keramik, tambahkan bawang putih bubuk, lada hitam bubuk, garam, sedikit gula, dan sedikit saus tiram kalau lagi pengen, aduk-aduk, masukan ke microwave, pasang di level 600 watt selama 5 menit, mateng aduk-aduk lagi sebentar, masukan selama 1-2 menit, matang, siap santap. Entah, liat isi kulkas rasanya kreatifitas nggak keluar. Udah bolak-balik buka kulkas sampe 5 kali. Aaargh! i wish someone brings me food! :) haha ngarepin tukang bakso atau mie tek-tek lewat? haha itu impossible! di sini, urusan makan boleh dibilang urusan sendiri-sendiri. Nggak ada yang tiba-tiba pencet bel trus ngasih rantang. Nggak seperti model-model tetanggaan kaya di Indonesia.

Jadi, buat kalian yang mau kuliah di luar negeri, trust me! kehidupan anak kos ala di sini, membuat makin strong dan makin kreatif dan fokus! Ini dilema banget! 75% fokus saya hari ini adalah gimana caranya ada makanan tanpa saya harus masak, haha...15% fokus sosialisasi sama dunia luar (alias ngobrol sama temen di dunia maya), dan 5% kepikiran mau nulis proposal (cat. baru kepikiran).

Ok, itu cerita saya hari ini tentang kehidupan anak kos ala negeri kincir angin (tepatnya si ala saya ;p)

Maastricht, 20 Maret 2015
#bertepatandengangerhanamataharipagiini

Monday, March 9, 2015

Summer on the Early Spring

Summer comes on the beginning of spring... :)


my purple bike :*

Jadi cerita hari ini adalah tentang sepedaan ke St. Pietersberg beberapa waktu lampau. Untuk acara sepedaan ini, saya sebenernya diajak oleh Bu Carla, Agung, Imam, dan Yohanes. Dan rupanya Luc, si care taker housingnya nael ikut juga. Jadi pas lah ada guidenya hihihi. St. Pietersberg ini adalah sebuah desa kecil di perbatasan Belanda, Flanders dan Wallonia. Letaknya tidak jauh dari housing saya di seputaran Brusselseport yang berdasarkan google map, kira2 jaraknya cuma 30 menit naik sepeda. Meeting point yang ditentukan adalah kantor polisi di Prins Bisschopsingel (sebelah Sint Hubertuslaan). Dari sanalah jalur sepedaan akan dimulai. Sebenernya kalau cuma ke fortress Sint Pietersberg itu cuma 15 menit. Tapi kami sengaja mengambil rute memutar melewati perbatasan dengan Belgia. Hitung-hitung sekalian olahraga hahaha. Kira2 jalurnya si begini.

Saturday, February 14, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Epilog) : A Smooth Landing at Eindhoven

So, this is it!

The End of Winter Trip 2014 in Eastern Europe. From Warsaw, Prague, Bratislava, to Budapest. Well, this time I won't tell you about how I went home to the Netherlands..but I would love to give you a story how the journey has put me some new sheets of life...

It was my first experience to have a trip when I studied abroad. For me, doing a sight seeing in the cities was amazing, because I always try to dive into its typical atmosphere of the cities I visited. For example, I enjoyed Warsaw as a romantic city, despite of its history and the sparks of modern city when I was there. Then I clearly remember when I stepped my feet at Bratislava, it still overwhelms me with the impression of "from history to life" journey. The most amazing part of the journey was when in Prague, when I start my solo walk, I mean when I convinced my self that I need to have my own story, then have split from my travelmates! Afraid? Worried? Definitely, YES! but at once, I got my courage as well! Yes, a moment I have faith that everything is okay, there was nothing to worry about..just one come to my mind, I GOT TO ENJOY this anyway! :) I remember that I just walked anywhere my feet wanted to, as well as I got my first archery experience and so called my first "Beethoven-Mozart" Tour. So I called Prague by the city of courage. Obviously, Budapest has given me the splendid experience in my winter holiday in 2014 by the warmth of the city and its people. Something that will certainly make people hard to put their attention back to their real life with works, study, etc. So true, isn't it?

Saturday, February 7, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (part 5): Budapest, Sebuah Catatan Memahami Sejarah Dunia!


Ya, Budapest adalah kota terakhir dalam perjalanan Eastern Europe Trip 2014.  Membayangkan bahwa liburan saya akan segera berakhir dan 2 ujian resit sudah menunggu dan buku2 yang saya bawa hanya sekali dua kali saya baca itu selalu membuat saya panik. Ouch, perut selalu tegang! Hihihi..tapiiiii rasanya terlalu sia-sia kalau selalu cemas. It's time to have a story in this city! Hahaha sungguh sebuah tekad yang besar!

Kami tiba di Budapest siang hari. Hemh..lagi2 agak repot karena harus menukar mata uang ke Hungarian Forint. Tapi nggak seribet di Prague si, karena kami sampainya siang jadi mudah untuk menukar ataupun tarik tunai. Daaan, untuk membeli tiket kereta pun, kami bisa menggunakan kartu debit atau kartu kredit langsung di mesinnya. Saya cuma bisa, "wow!" Hahaha maklum, datang dari sebuah negara yang masih belum kenal kata efisien hihihi. Ok, step pertama adalah mengambil peta atau city map gratis. Sempat bingung juga ketika mencari jalur ke arah hostel yang kami booking. Hihi anton dan putri sibuk ngeliatin peta, saya diem aja. Abis kalau saya ikut2an ngeliat peta, yang ada malah diskusi nggak selese2. Sebenernya, solusi paling cepat buat saya adalah nanya ke polisi atau ke penduduk lokal. Wow! Patut diacungi jempol! Dari semua polisi dan penduduk lokal yang saya tanya, mereka nggak hanya menjelaskan secara verbal, tapi juga langsung assisting by action. Yang terakhir malah, si mbak2 warga lokal menunjukkan dan mengantar kami langsung ke depan penginapan tujuan kami. Wes wes, baik syekalih ya! Coba boleh dipeluk hihihi. Buat yang sering nyasar di tempat asing, pasti tau rasanya ketemu orang-orang baik.

Saturday, January 31, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 4): Terlalu pagi tiba di Praha

photo credits by Anton Tarigan

Pukul 4 dinihari waktu setempat, setelah 10 jam perjalanan dari Warsaw menggunakan Polski Bus, adalah waktu ketika kami tiba di ÚAN Florenc, Prague. Kota tujuan kedua dalam Eastern Europe Trip pada winter 2014. Cuaca dingin yang lumayan menusuk tulang tidak terlalu saya rasakan. Sempat heran, kok ruang tunggunya gini amat ya? kecil dan tampak renovasi sana sini belum selesai. Dan weeeeeeh...toiletnya dikonciiiii...huft huft! apa dech, toilet pake dikunci segala..terlihat beberapa wajah bete penumpang gara-gara ini hahah..Tapi, bersama-sama dengan mayoritas penumpang yang memilih untuk tetap berada di di dalam terminal  menunggu pagi, membuat lelah sedikit berkurang. 

"Fiuuuuuh, still some more destinations ahead..couldn't be more excited than this", batin saya. 

Sunday, January 25, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 3): Warsaw, my first romantic city!



Ok, let’s go..
Memulai perjalanan pertama di Eastern Europe Trip adalah Warsaw. Sesuai dengan schedule, tibalah kami di bandara Modlin. Bandara ini bukanlah bandara utama yang melayani peerbangan pesawat2 besar. Modlin Airport hanya melayani pesawat-pesawat kecil seperti Ryan Air yang saya naiki ini. Penerbangan dari Eindhoven memakan waktu 1,5 jam ke Modlin. Kami langsung menuju shuttle bus yang akan mengantar kami ke city centre Warsaw, dimana teman saya Ilham akan menjemput kami. Pembayaran tiket bus sebelumnya kami lakukan via online, jadi ketika akan naik bus kami hanya perlu untuk menunjukkan tiketnya. Perjalanan cukup nyaman dan kebetulan tidak terlalu penuh. Kami sempat bertanya kepada sepasang ayah dan anak apakah bus yang kami tumpangi sudah betul destinasinya. Rupanya sang ayah tidak berbahasa inggris, sehingga jawabannya ditranslate oleh si anak. Inilah kesan pertama tentang Eastern Europe. Bahasa inggris belum menjadi Bahasa sehari-hari di sebagian besar wilayah Eropa Timur. Sangat berbeda dengan Belanda dimana boleh dibilang semua warganya dapat berbahasa inggris. Teman saya, Ilham, bercerita bahwa ketika pertama kali tiba di Warsaw, agak sedikit mengalami kesulitan berkomunikasi karena dia tidak bisa berbahasa Polish dan sebaliknya mereka juga tidak semua bias berbahasa inggris. What an interesting experience!

Saturday, January 17, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 2): Persiapan

Ini adalah Eastern Europe Trip yang super nekat pada saat Chrismast Break. Kenapa saya bilang nekat? Sungguh, melakukan perjalanan ke beberapa negara dengan dibayang-bayangi dua nilai ujian yang belum keluar dan dua resit di awal januari itu sebuah pemikiran yang sangat beresiko. Tapi bismillaah..modal nekat plus cita-cita belajar selama trip jadi sebuah pembenaran untuk jalan-jalan..ngebul booo' habis ujian 2 mata kuliah yang super berat..hahaha.. entah kenapa eropa timur begitu menarik perhatian saya. Mungkin karena sejarahnya di masa lalu ya, nazi, yahudi, rusia, dsb. Pokoknya historical banget. Udah saya bayangin orang yang tinggi-tinggi, bangunan tinggi, hujan, payung, coat panjang, dan topi. Kayanya saya kebanyakan nonton film emang -_-".

Diawali dengan menentukan negara-negara yang akan

Friday, January 16, 2015

Nggak ada gengsi, flea pun jadi..

Sebagai kota pelajar (meminjam istilah Yogyakarta, kota pelajarnya Indonesia), tentu saja keramaian kota ini didominasi oleh para mahasiswa yang bukan lagi datang dari penjuru kota di Belanda tapi juga dari dunia. Sistem akomodasi atau tempat tinggal, di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kos-kosan ala Indonesia. Mulai dari type room atau di sini istilahnya adalah kammer (kamar), studio (kamar plus fasilitas kamar mandi dan toilet), dan apartment (lengkap dengan dapur, ruang tamu, dan terkadang ada fasilitas gudang atau storage room). Nah, kalau yang semi-semi biasanya fasilitas tambahannya sifatnya nanggung...cuma bukan berarti ada semi room juga haha..Untuk kontrak, jelas tertuang di selembar kertas putih, termasuk deposit (plus agency fee bagi yang menggunakan agent, rata-rata biayanya sama dengan 1 bulan kontrak). Mau kamu hanya sewa satu dua atau tiga bulan, semua serba jelas. Yup! orang belanda emang terkenal administratif banget. Sama dengan di Indonesia, housing (istilah kos-kosan) di sini tersedia dalam beberapa pilihan fasilitas, full furnished (perabotan lengkap), semi furnished (biasanya basic banget tempat tidur), atau unfurnished (kosongan)..tinggal sesuaikan aja dengan budget yang kamu miliki..paling murah tentu saja unfurnished...eh, tapi mahal donk jatuhnya kalau harus beli perabotan-perabotan?! secara di sini pake euroooo....lagian ribet dech ah..

Yuhuuu....persis! tapi ok, pause dulu pikiran itu..karena apa yang gw tulis berikut, bakal bikin kamu

Thursday, January 15, 2015

A short Escape in Winter 2014 (Part 1): Bratislava, Sebuah Rasa tentang Eropa Timur

Yup! Bratislava...adalah ibukota dari negara ketiga yang saya kunjungi dari rangkaian liburan Christmas Break 2014 lalu. Ibukota negara Slowakia (demograpic data: klik disini) ini, atau yang dalam tulisan aslinya Slovak, terletak di tepian sungai Donau dan berbatasan langsung dengan Austria (1 jam perjalanan bus ke Wina) dan Hungaria (2 jam perjalanan bus ke Budapest). Sebuah rute yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan melintasi berbagai negara bukan? 

Kenapa saya mengawali cerita perjalanan kali ini dimulai dari Bratislava? karena bagi saya kota ini memiliki kesan yang menarik perhatian saya tersendiri, meskipun saya berada disana hanya satu hari (menginap satu malam). 

Cerita tentang kota ini dimulai dari insiden "nyungsep" di tangga terminal bus utama, Autobusová Stanica (AS) Mlynské Nivy. Mungkin karena kelelahan, saya tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh saya ketika menuruni tangga dan akhirnya meluncur dengan sukses seperti penguin (sayang nggak ada fotonya hihihi). Malu? nggak juga..hihi alhamdulillaah rasa sakit di sekujur badan lebih terasa daripada rasa malu hiiikz..masa pertama datang langsung nyungsep..hahaha

Friday, January 2, 2015

Implementasi yang berbeda, Idealkah? : Sebuah pertanyaan terkait dengan tugas belajar pegawai negeri sipil

Terinspirasi dari membaca sebuah perbincangan mailing list dan diskusi kecil di group, saya jadi berpikir kembali, Training and Development di kalangan pegawai negeri sipil (lebih tepatnya yang akan saya bahas adalah tugas belajar) sebenarnya memotivasi atau mendemotivasi? apa impact ke depannya terhadap organisasi? 

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal tulisan ini, diskusi tersebut mengulas seputar potongan gaji bagi seorang pegawai negeri sipil. Saya sendiri kaget sebenarnya (malu sebenernya, sudah lama kerja di bidang ini malah baru tahu detailnya sekarang), karena implementasi peraturan antar satu instansi dengan instansi lainnya ternyata berbeda. Sebagai contoh, di Kementerian Keuangan, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.01/2009 tentang Tugas Belajar di Lingkungan Departemen Keuangan Pasal 9 menyebutkan bahwa pegawai yang melaksanakan tugas belajar diberikan gaji secara penuh. Sementara di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berdasarkan Permendiknas Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 11 ayat 3, disebutkan bahwa pegawai tugas

Thursday, January 1, 2015

Keciwis dan sebuah cerita

Hari ini saya memasak cabbage sprout..tapi ini bukan tentang sebuah resep..

Sayuran ini sangat mengingatkan dan mungkin akan selalu mengingatkan saya pada sebuah tayangan televisi swasta nasional di Indonesia sekitar lebih dari 2 tahun yang lalu, tentang dua anak kecil bersaudara di sebuah desa di jawa barat yang harus berjuang mencari uang, salah satunya dengan mencari keciwis di ladang kol bekas dipanen. kenapa cerita ini membekas sekali bagi saya? Ya, amat sangat membekas..karena dari situlah saya pertama kali mengenal jenis sayuran ini...keciwis atau cabbage sprout. 

Masih teringat jelas, betapa air mata ini menitik ketika melihat tayangan tersebut. Sungguh sesak, ketika hasil pengumpulan keciwis tersebut hanya dihargai kurang dari 3 ribu rupiah..sementara, saya membeli sayuran di sini dengan harga kurang lebih 1 euro atau setara 15 ribu rupiah...ya, sebenarnya tidak bisa dibandingkan memang. Saya hanya membandingkan dengan diri saya sendiri. Dengan uang 1 euro saya bisa mendapatkan sayuran ini dengan mudah, sementara mereka harus berjalan dan berpindah-pindah ladang untuk mencari dan mengumpulkan keciwis. Tidak jarang, ada saja pemilik ladang yang melarang mereka untuk mengambil sisa2 panen..tapi tidak sedikit pula yang berbaik hati mengijinkan bahkan memberi sekedarnya...hati ini seperti menangis kembali. Anak-anak dengan usia kurang dari 10 tahun harus berpindah-pindah ladang demi sebakul beras, dan masih ada banyak anak-anak lain yang berada dalam posisi mereka...aah..perasaan saya sangat berkecamuk saat ini.

Semoga mereka sekarang jauuuuh lebih baik dalam kehidupannya, sehat, bahagia, mendapat pendidikan dan perhatian yang layak dari berbagai kalangan...dan semoga bukan cuma untuk kepentingan komersil rating program saja..jujur, ini pertama kali pula saya memasak sayuran ini..dan dada saya terasa sesak, ingat dua bersaudara yang hebat itu! Semoga Allah menghebatkan mereka!