Tuesday, January 10, 2017

Masih suka menyalahkan orang lain?

Dari beberapa hari yang lalu, ada-ada saja cerita yang berujung pada pagi ini yang tetiba teringat sesuatu ketika sedang kuliah di Belanda, tapi lupa pas lagi ngapain dan lagi ngobrol sama siapa..yang pasti tu begini..yang membedakan antara orang Barat dan orang Timur salah satunya adalah keberanian mengatakan "It was my mistake"..Jadi ketika itu ceritanya begini..


Contoh simple, adalah ketika kita terlambat..Umumnya yang pertama kali diucapkan dan disampaikan adalah "Maaf, saya terlambat". Ternyata, instead of using sorry for the first sentences, mereka mengucapkan "It was my mistake for being late, I'm sorry".


Nah, esensinya adalah...Kata "maaf" itu memang gampang diucapkan (walaupun bagi sebagian orang yang pridenya super tinggi memang masih susah si bilang maaf, sorry to say, makan tuch pride :D), tapi lebih dari itu, "mengakui bahwa itu adalah kesalahannya" ternyata adalah hal yang paling dan paling sulit dilakukan oleh mayoritas kita. Alih-alih mengakui itu memang kesalahannya, malah selalu menyalahkan faktor di luar dirinya, entah itu orang lain atau sesuatu. Ternyata, the power of admitting the mistake itu luar biasa. Keliatan lebih "mengena", lebih bisa mengurai permasalahan. Instead of marah-marah nggak jelas, padahal udah minta maaf. Hmh..gimana saya ngejelasinnya ya? susah juga. Secara saya bukan ahli berteori wkwkwk.Frankly speaking, saya mencoba menerapkan hal itu beberapa kali. Saya mencoba selalu bilang, "itu kesalahan saya, dan saya minta maaf". Ternyata memang beda dengan ketika saya hanya bilang "maaf". Powernya bukan ke orang lain si saya rasakan, tapi ke diri saya sendiri. Rasanya, saya lebih plong dan legowo aja. Menghadapi permasalahan pun sepertinya lebih clear aja..hahah...lebih fokus nyari solusinya daripada nyalahin sebabnya wkwkwkw..(sok wise banget gw).


Thus, saya jadi inget..mungkin ini karena sejak dini yang orang dewasa lakukan terhadap anak kecil salah. Contohnya nich, anak kejedot tembok, lha yang disalahin adalah temboknya, dibilang "duh temboknya nakal ya dek". Padahal karena si anak misalnya kurang hati-hati. Padahal kalau dipikir pake logika, helloow itu tembok dari kapan udah di situ. Atau pas anak kesandung kursi..."Ih kursinya nakal". Alamak, apa salah kursi dan tembok. Padahal lebih bijak ika menunjukkan bahwa si anak kurang hati-hati, atau ada saran supaya terhindar dari kejedot atau kesandung. Contoh "Adik kurang hati-hati, sebaiknya berjalan biasa saja, boleh berlari tapi lihat ada apa di sekitarnya" (hehe ilmu ini saya dapat waktu saya bantuin tante saya di TK). Well, tapi seringnya nich, orang dewasa akan menggampangkan dan berpikiran, "masih kecil ini". Totally wrong!!! justru apa yang terekam, apalagi di bawah usia 5 tahun, itu yang akan selamanya terekam dan membentuk perilaku dan karakter si anak ketika dewasa. Nggak heran banyak orang dewasa selalu put the blame on others..Yah, kecuali dapat hidayah dalam perjalanannya jadi orang bijak ya hewehwehh..


So, end of the story..
Jakarta, tulisan pertama di 2017

Wednesday, December 14, 2016

AUTHENTIC LEADERSHIP: MENCAPAI KEPEMIMPINAN EFEKTIF DALAM REFORMASI BIROKRASI

Jakarta, 14 Desember 2016

Sedianya, tulisan ini adalah draft untuk penerbitan jurnal di kantor saya. Haha, tapi setelah melalui editing, nggak lolos..Ya iyalah, gimana mau lolos, lha wong tulisan ini dibuat dalam waktu semalem suntuk, mirip-mirip sama mahasiswa bikin tugas kuliah yang dikumpulin besok pagi (nyahahaha..#menertawakan diri sendiri -red). Nah, ditambah lagi, kontributor lainnya adalah itu para ahli, salah satunya Prof. Sarlito Wirawan. Wkwkwkw..jadi saya ikhlas aja si kalau nggak lolos tayang haha..

Anyway, saya mau posting di sini aja karena gini, selalu dan selalu..yang jadi keluhan dalam manajemen maupun dalam bisnis process sebuah organisasi kalau ditarik ujungnya adalah soal leadership. Mau dibahas bolak balik pun soal team work, SOP, goals, and the bla bla bla..yang namanya kerja dalam sebuah organisasi, even you are the owner, means leadership is the key. Yes, pemimpin adalah kunci dari sebuah pencapaian organisasi, baik individu maupun tim. Sebagai ilustrasi, pimpinan lah yang menetapkan goals atau tujuan, strategi, maupun dalam pelaksanaannya. Kebayang nggak? kalau kerja tapi organisasi nggak punya target, trus nggak ada yang ngarahin, trus nggak ada pula yang monev di tengah-tengahnya. Yes, bakalan kocar-kacir tentunya. Pun nggak kalah pentingnya tentu nich adalah gaya kepemimpinan. Hadoeh, udah kebayang lagi kan kalau yang punya style kepemimpinan model otoriter apalagi yang gayanya "sebodo amat" (over democratic)..herrhhh...rasanya kerja tapi pikiran mau liburan melulu, karena baru nyampe rumah kebayang besok masuk kerja aja udah stress hewhewhew...

Sudah banyak memang teori yang mengupas tentang gaya-gaya kepemimpinan. Mulai dari democratic, situational, sampai leissez-faire. Nah, saya sedang tertarik pada satu ledership style yang menurut saya, kalau sampai ada yang bisa menerapkan model gini, kantor aman sentausa ya hewhewhew.. Let's check what is the Authenthic Leadership? sorry, tulisannya resmi banget..namanya juga buat jurnal (hampiiiir...wkwkwkwk)..enjoy! (ps. read till end)

AUTHENTIC LEADERSHIP: MENCAPAI KEPEMIMPINAN EFEKTIF  DALAM REFORMASI BIROKRASI
PENDAHULUAN
Leadership atau kepemimpinan selalu menjadi terminologi yang menarik dalam dunia manajemen sumber daya manusia. Namun umumnya, yang menjadi area implementasinya adalah sektor privat atau yang bisnis. Hal ini karena sektor privat menyadari betul pentingnya peran seorang pemimpin sebagai sentra kekuasaan dan kewenangan yang menentukan keberhasilan organisasi (tercapainya keuntungan atau profit secara maksimal) melalui pengambilan-pengambilan keputusan yang strategis (Rattanasevee, 2014). Sedangkan dalam birokrasi Indonesia, dimana sistem kepemimpinannya adalah hierarkis atau berjenjang, kepemimpinan menjadi hal yang sangat unik dan belum sepenuhnya mendapat perhatian (Silalahi, 2011).

Tuesday, November 22, 2016

Jejak pada setapak

"Mbak sudah pernah ke Makassar ini?"

- sudah lama hatiku kutinggalkan di kota ini...bertahun lalu dan terlalui...dimana kau juga menjejakkan langkahmu disini-

Tidak mudah..

Dengan senyum, kujawab "baru kali ini, ibu.."

(pena tumpul, 221116)

Monday, November 14, 2016

Gorengan, Lontong, dan Nasi Megono: A Potluck and Managing Performance

Selamat pagi...semangat senin..

jadi pagi ini adalah diawali dengan gw bete sebete-betenya..hihi tapi bukan itu si yang mau gw ceritain..tapi sebuah inspirasi pagi yang berhasil merubah mood saya pagi ini (ciee karena mood udah bagus lagi, gw berganti saya wkwkwkw)...

Ceritanya begini..

Kantor saya (nggak usah disebut lah ya paling juga dah bisa nebak), in a narrow scope suasananya lagi nggak nyaman. Short explanation adalah team work and team management nggak jalan, supervising gagal total, coordination bubar jalan...semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing, mengamankan diri sendiri semua, work made by order only, no sustainable work. Jadi bisa dibayangin ya, rasanya gimana kerja di lingkungan begitu. Setelah saya amati ternyata ada 3 hal penting yang berpengaruh, yaitu:

Tuesday, September 27, 2016

Kenapa baru sekarang?

Hihihi..sudah saya duga, pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul di hari pertama saya muncul di kantor dengan gigi yang sudah berpagar logam. Ya! di deretan gigi saya yang berantakan terpasang brachet metal dengan karet warna pink (my fav color!). Yah sebenarnya wajar saja si pertanyaan itu muncul karena selama 5 tahun lebih mereka terbiasa dengan saya yang tanpa brachet (alias berantakan dan nggak bebas senyum). Well, let's start my story..

Semua berawal dari puluhan tahun yang lalu (naon sich, padahal ya kira-kira 25 tahun yang lalu haha)..saya nggak ingat persisnya saya umur berapa, tapi kira-kira begini ceritanya... Pergi ke dokter gigi adalah momok yang paling menakutkan bagi saya! Masih ingat dengan jelas, dari rumah si berangkat masih tenang-tenang saja, di ruang pendaftaran yah masih so so lah..di ruang tunggu pun, masih chill meskipun deg-degannya nambah.. Nah, begitu masuk ruang periksa, entah kenapa, pecah tangis saya! dan I clearly remember how afraid I was when seeing the dentist equipment. Saya hampir lari, kalau ayah saya tidak segera memegang tangan saya! Drama banget ya. Mau dibujuk-bujuk kaya apapun, it didn't work! Akhirnya, there was not other way, Ayah saya kemudian duduk di kursi pasien dan saya dipangku! dan Ibu saya pun mengelus-elus tangan saya supaya kalem. Masih drama nangis tuch, mau nggak mau saya pun buka mulut dan dokter pun melakukan tugasnya, mencabut gigi saya. Selesai tindakan, saya pun masih dengan menangis keluar dari kamar periksa. Hihihi apalah rasa malu, bodo amat lah! walaupun abis itu nangisnya udahan. Hahaha...Percaya nggak percaya, drama yang sama terjadi berulang kali setiap saya pergi ke dokter gigi (dokter giginya pun beda-beda, mungkin ganti suasana kali ya). Biarpun saya sudah SD kelas berapa gitu, mungkin kelas 4 atau 5 kali ya..sebenarnya malu si ya, tapi saya masih inget banget tuch disuntik-suntik..wah kejer lagi donk..haha tetep dipegangin sama Bapak si..haha lupa dech masih dipangku atau nggak. Dokter saat itu bilang, dipasang brachet aja biar nggak berantakan. Well, some reasons (nggak tau ya), nggak dipasang juga. Soalnya abis itu nggak ke dokter gigi lagi hahaha..

Wednesday, September 21, 2016

A Morning Inspiration

Assalamualaikum,semangat pagi semuanya. "Break The Limit"
(Adi W Gunawan)

Beberapa hari yang lalu saya mengendarai mobil menuju Bandung. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak.  Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.

Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatan nya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya.

Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju diatas itu.
Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.

Monday, September 19, 2016

Cuti Awal Tahun (Epilog): Dari Durian Ucok sampe Kualanamu

Hehe...rasanya kok nanggung ya, nggak sekalian nulis liburan penuup di cuti awal tahun ini. Ditambah malah jadi ngidam Durian Medan! Iyaaa..,,jadi karena setelah berlibur singkat di Danau Toba, kami ke Medan hanya karena pengin makan durian di Durian Ucok! Alamaaaak (pake logat batak hahaha), baru denger namanya aja sudah ngiler! Do oh saya kan pecinta durian! Oke sabar..sabar..

Jadi, perjalanan kami ke Medan dimulai donk dengan naik travel (umumnya yang disebut travel itu adalah mobil sewaan model avanza atau xenia, jika beruntung ya innova) dari pelabuhan Tiga Raja Parapat, tiket sekitar 90rb kalau nggak salah ya. Perjalanan ke Medan memakan waktu sekitar 5-7 jam. Satu Mobil diisi dengan 7 orang penumpang dan 1 driver. Di sebelah kami adalah seorang ibu dengan ananya yang masih kecil, namanya Samuel! Tapi panggilannya Muel! Lucu banget. Rupanya suami si ibu adalah si bapak yang duduk di sebelah supir dan memangku sang kakak, namanya Jelita. Jadilah sepanjang perjalanan kami bercanda dengan Muel dan Jelita. Hahaha karena saya dan Ira kebagian duduk di tengah dan pinggir, jadi kami gantian supaya nggak terlalu pegal punggung, maklum berjam-jam. Sebenarnya ada waktu berhenti dan istirahat si di sebuah rest area, cukuplah makan mie goreng dan teh yang hangat. Lumayan menghilangkan penat. Oy, travel ke Medan ini bersedia mengantarkan kami sampai ke penginapan, yaitu Permata Inn. Dari Parapat sekitar jam 12, sampai di Medan sekitar jam 7. Yup lama memang. Tapi alhamdulillaah sampai di Medan!